Wawancara dengan Erika Sawajiri : Pemikiran jujur seorang bintang

Artis yang sombong atau bebas?
Penyanyi dan aktris kontroversial Erika Sawajiri sekali lagi membuat popularitasnya turun karena mencela industrinya yang dianggapnya ketinggalan jaman. “Membatasi orang berbakat adalah masalah terbesar di bisnis hiburan di Jepang,” kata Erika Sawajiri yang berumur 24 tahun. “Ini abad ke 21 dan hal itu harus berubah.”
Dalam wawancara berbahasa Inggris pertamanya dengan CNN, Sawajiri dengan santai, berterus terang, blak-blakan dan memiliki hasrat perubahan berbicara bagaimana selebriti Jepang diperlakukan oleh agensinya.
Sawajiri yang terkenal lewat kontroversi yang dibuatnya sejak pertama kali dalam insiden “betsu ni” (“no comment”) dalam konferensi pers September 2007 silam.
Berbicara dalam bahasa Inggris yang lancar, dan tanpa ragu-ragu –sesuatu yang benar-benar jarang terjadi di Jepang– dengan percaya diri dan yakin ia menceritakan secara detil pengalamannya itu.

Latar belakang yang luar biasa
Mungkin Erika Sawajiri lahir untuk menjadi sesuatu yang berbeda. Dilahirkan dari ibu keturunan Berber (suku asli Afrika utara) dan ayah Jepang yang kaya, kemunculannya bisa dibilang biasa saja.
“Ibuku lahir di Algeria namun pindah kesini (Jepang) dari Paris ketika ia berusia 24 atau 25 tahun, lalu bertemu ayahku dan menetap. Kakek dan nenekku sudah tiada dan aku tak pernah bertemu mereka. Jadi aku tak pernah berhubungan dengan pihak ibuku, tapi dia (ibu) memiliki enam saudara laki-laki dan perempuan yang kutemui ketika aku masih kecil,” dia menjelaskan.
“Aku tak pernah belajar bahasa Berber atau Prancis sebelumnya, berpikir aku akan mempelajarinya suatu saat, namun ibuku selalu mendengarkan musik Arab dan Gypsi Kings (grup musik) ketika aku tumbuh dan itu membuat kesan tersendiri.”
Tumbuh sebagai seorang blasteran di Jepang masih sangat langka saat itu, dan menerima banyak respon dari masyarakat Jepang, seperti mereka menganggapnya sebagai bukan orang asing, tapi juga bukan orang Jepang seutuhnya. Dalam beberapa tahun, keadaan di Tokyo akhirnya mulai berubah, semua karena bertambahnya para selebriti, terutama penyanyi, dengan percampuran latar belakang (blasteran). Artis seperti Crystal Kay (Korea Afrika-Amerika), Thelma Aoyama (Trinidad dan Jepang), dan Kaela Kimura (Inggis dan Jepang) yang mulai merubah opini publik tentang arti menjadi orang Jepang. Meskipun beberapa seperti Angela Aki (Itali-Amerika dan Jepang) juga telah berbicara tentang tantangan hidup di bangsa dengan etnik yang homogen seperti Jepang.
“Saya tidak pernah masuk ke sekolah internasional, jadi saya pikir, saya orang Jepang asli.” kata Sawajiri. “Tapi saya punya ambisi untuk pergi ke negara lain, terutama Eropa dan pada umur 21 tahun, saya memutuskan untuk pergi ke London.”

Reputasi dan ketidak-bahagiaan
Saat itu dia pergi untuk belajar bahasa Inggris selama setahun di Bell International Institute, London, dia telah mendapat lebih banyak pengalaman hidup bahkan lebih dari cukup dan bersyukur telah mendapat kehidupan normal walaupun sesaat.
“Keluargaku sangat kaya ketika aku masih muda,” katanya. “Ayahku mempunyai banyak bisnis yang semuanya berjalan dengan sangat baik dan stabil, namun suatu saat dia menghilang ketika aku berumur sembilan tahun. Kami memiliki rumah besar di Tokyo saat itu, namun kami harus pindah ke apartemen karena ibuku sedang dalam saat-saat yang sulit untuk meneruskan hidup. Dia harus menjual banyak barang, rumah, perhiasan dan sebagainya. Itu adalah saat-saat paling berat. Kemudian pada suatu hari, tiba-tiba ayahku muncul ketika aku berumur 15 tahun. Dia mengatakan pada kami bahwa dia menderita kanker dan sedang sekarat. Kami tinggal bersama selama sebulan dengan kedua saudara laki-lakiku.”
Kakak laki-lakinya kemudian meninggal dalam kecelakaan mobil ketika Sawajiri masih SMP.
Sawajiri memulai karirnya di sekolah model lalu membuat penampilan mengejutkan di dorama televisi tahun 2005 berjudul 1 Litre of Tears, dan dia bermain sebagai Aya Ikeuchi, gadis yang menderita Spinocerebellar Degeneration (SCD). Bergabung dengan manajemen STARDUST pada umur 13 tahun, dia lalu menjadi bintang dalam drama TV seperti Taiyou no Uta ~Song of the Sun dan memulai karirnya sebagai penyanyi dengan lagu-lagu yang sempat menempati posisi pertama chart secara berurutan di bawah label Sony, pertama kalinya seorang penyanyi debutan mendapatkan penghargaan itu sejak tahun 1983. Karirnya pun naik dengan pesat. Tapi saat itu ternyata adalah awal mula ia jatuh. Dan melihat hal tersebut, Sawajiri bersyukur hal itu terjadi.
“Sesungguhnya aku tidak begitu bahagia karena aku tidak puas dengan lagu-lagu itu. Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana lagu-lagu itu bisa mereka mencapai nomer satu. Aku berpikir semua orang pasti membelinya dengan gila-gilaan. Aku tidak suka lagu-lagu itu, itu hanya kebetulan.”

Melawan Sistem Manajemen Jepang
Seperti kebanyakan yang terjadi pada orang berbakat di Jepang, dia lalu terikat kontrak pada manajemen yang mengatur apa yang bisa dia lakukan dan mana yang tidak. Banyak dari mereka yang mendapat upah sebagai ‘karyawan’ oleh agensi mereka di Jepang. Membatasi inovasi musik seorang musisi dan memaksa para aktor tampil dalam pertunjukan yang tak pernah dapat mereka pilih sendiri. Mereka juga dibuat bekerja keras selama berjam-jam. Walaupun beberapa bintang besar Jepang seperti Aya Ueto telah mengaku berkali-kali terbebani secara emosional oleh sistem-sistem tersebut. Beberapa artis tidak lagi menikmati kehidupan normal pribadinya, mereka telah masuk pada kehidupan sosial yang terisolasi. Tidak sedikit di antara mereka yang gagal karena terlibat skandal atau bahkan bunuh diri.
“Sebelum aku pergi ke London, sangat berat hidup di Tokyo. Setiap hari bekerja dan aku tak dapat tidur. Aku hanya bisa tidur tiga jam jadi sangat berat setiap harinya,” kata Sawajiri. “Aku berhenti dan pergi ke London, aku ingin hidup sebagai gadis normal. Aku belajar bahasa Inggris, itu sulit, namun itu adalah pengalaman yang sangat bagus, aku hanya pergi ke sekolah dan setelah usai kami pergi ke bar untuk berbincang-bincang atau minum bir.”
Saat konferensi pers untuk filmnya yang berjudul Closed Note yang tayang pada September 2007, dia tampak tidak senang dengan film yang dimainkannya itu, dia lalu memberikan jawaban singkat dan menghebohkan pada media. Ia lalu dikritik oleh seluruh media Jepang karena melanggar sopan santun dan menganggap tidak menghormati lawan mainnya dalam film tersebut. Sawajiri lalu meminta maaf dua hari setelahnya dalam acara TV Asahi Super Morning.
“Permintaan maaf itu suatu kesalahan!” kata Sawajiri. “Agenku berkata bahwa aku harus meminta maaf, aku tetap menolak, aku benar-benar tidak mau melakukannya. Aku berkata pada mereka bahwa ‘ini jalanku’… tapi akhirnya aku menyerah. Itulah kesalahanku.”

Kontroversi dan Penyesalan
Sawajiri kemudian memiliki hubungan dengan seorang media kreator Jepang Tsuyoshi Takashiro, seniornya yang berumur 21 tahun lebih tua, keduanya lalu menikah pada 20 Januari 2009, dan sekarang sedang berada di ambang perceraian. Sawajiri juga merasa menyesal karena telah menghabiskan waktu dengan laki-laki itu.
“Itu adalah waktu yang berat di London dengan dia, aku tak memiliki kenangan indah, itu adalah waktu yang berat, mimpi buruk. Beruntung aku memiliki banyak teman orang-orang lokal (Inggris) dan mereka membawaku ke pesta atau klub dan itu menyenangkan karena kehidupan malam itu menakjubkan.”
Setelah setahun di London, dia lalu pergi ke Barcelona dimana dia menghabiskan tahun berikutnya. Media Jepang mendapat kabar angin tentang kemungkinan mereka akan berpisah ketika tiba-tiba Takashiro berada di Selandia baru di waktu yang bersamaan.
Kemudian pada September 2009, hampir dua tahun setelah menyendiri, jauh dari beban hidupnya, ia dikeluarkan dari agensinya, yang menjadikannya kehilangan kesempatan untuk bermain lagi di layar lebar sebagai pemeran utama wanita untuk film yang dinanti-nantikan Space Battleship Yamato.
“Aku selalu ingin kembali dan mulai bekerja lagi, itu rencanaku, dan sekarang aku memiliki rencana untuk bermain dalam film yang aku inginkan, karena itu sangat penting bagiku untuk memilih film dan berakting kembali.”

Kembali ke Kehidupan
Bekerja dengan agen yang berada di Spanyol, dia kembali menimbulkan kemarahan ketika sebuah fax sampai ke meja sebuah media Jepang Maret 2010. Fax tersebut mengumumkan kembalinya Sawajiri ke Jepang (dunia hiburan), dengan mencantumkan enam aturan tentang apa yang media dapat lakukan dan tidak dapat terhadap dirinya, sebuah sasaran empuk bagi media untuk kembali menyerang Sawajiri dan mempertahankan reputasinya sebagai pembuat masalah.
“Itu bukan aku dan aku tidak pernah tahu tentang itu!” pengakuan dari Sawajiri. “Kenyataannya enam syarat itu adalah ide suamiku, aku sangat mempercayainya, tapi dia melakukan kesalahan.”
“Ketika masalah dengan mantan suamiku (secara hukum masih menikah) terselesaikan, banyak hal berubah, namun aku tak tahu kapan itu akan terselesaikan.”
Tahun 2010 Sawajiri muncul di panggung besar sekali lagi, memperkenalkan lagu bahasa Inggris barunya di Girl’s Awards pada bulan Mei (“Sekarang aku ingin mencoba musik dance,” katanya) dan tampil di sampul majalah-majalah terkenal.

Tetap Sendiri
Untuk siapapun yang tinggal di Tokyo, Sawajiri dapat muncul dimanapun. “Aku takut akan diekspos berlebihan karena aku pernah mengalaminya di tahun 2007, namun ini tidak seburuk yang dulu. Sejujurnya aku ingin melakukan syuting, menyanyi dan melakukan banyak hal sekarang, ini adalah momen yang tepat dan aku ingin menunjukkan kreativitasku dengan cara apapun yang dapat aku lakukan. Bahkan sebagai hobi aku menyukai fotografi dan desain grafis.”
Dengan rumor bahwa dia menandatangani perjanjian dengan perusahaan raksasa dalam waktu dekat (Avex), saat ini Sawajiri adalah orang yang berpendirian dan tidak akan membiarkan agensi turut campur dalam caranya, dan ia mengkritik struktur keseluruhan dalam dunia hiburan. “Aku pikir [membatasi seorang artis untuk memiliki kehidupan normal dan mengeluarkan pendapatnya] adalah masalah utama dalam dunia hiburan di Jepang. Kenyataannya ini adalah masalah terbesar. Aku berpikir semua sistem (perusahaan) sudah sangat tua. Bahkan para manajernya pun sudah tua namun kita harus mengubah situasi ini.”
Sejak idol tahun 80an, Seiko Matsuda (yang menantang pemikiran tradisional orang Jepang, untuk terus bekerja setelah menikah), kini telah muncul artis wanita yang mempunyai keberanian untuk mempertahankan apa yang dia percayai, hingga menimbulkan pendapat pro dan kontra.
Sekarang, kembali hidup menetap kembali di Tokyo, ia mencoba mencari cara untuk menunjukkan bagaimana seorang bintang dapat menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dan kebebasan berkreasi dengan sukses, Sawajiri bekerja sebagai freelance dan sendiri. ”Aku ingin bekerja sama dengan bisnis hiburan Jepang dengan mendirikan kantor sendiri,” katanya. “Kita hidup di abad 21 jadi ini waktunya untuk mengikuti jaman.”

Sumber : CNNgo
Wawancara oleh : Robert Michael Poole, 1 September 2010

About amelia sherlyta
Seorang mahasiswi jurusan pendidikan kimia yang sedang menimba ilmu di negeri orang, dan Kini sedang berusaha belajar bahasa turki. Walaupun begitu, cintanya akan Jepang tetap abadi. Yeah! "Masih tetap bercita-cita sekolah di Jepang!"kataku.

5 Responses to Wawancara dengan Erika Sawajiri : Pemikiran jujur seorang bintang

  1. arsakura says:

    :matabelo emang kejem banget dah, awas aja klo neng YUI dijadiin sapi perahan-nya sorny😡

    • ahorikita says:

      wah sepertinya si kalo kasus Erika ini, si agensi STARDUST itu yang mengendalikan, label jarang
      hampir semuanya dikendalikan oleh agensi, makanya Erika dikeluarkan, trus putus dari sony
      eh malah gabung ke avex,😀😀😀

  2. gil says:

    jadi bayangin kalo ayumi tuh manusia super yah, tahan tekanan lama banget, dia blom pernah cuti tho? kalo utada sama namie amuro kan pernah tuh

    • ahorikita says:

      utada malah mau hiatus taun depan, hehehe
      iya ya, kalo dipikir2 ayumi ki wanita super, tahan tekanan super berat, lol. maklum milf, eh maksude sudah berumur, hehehe..

  3. blaze says:

    kebanyang klo artis indonesia kayak gitu, mumet keto’e(mungkin…) artis indo ne, klo sistemnya indo apa sama kayak yg di jepang ? indo kelaitanya cuma pakai jasa manajer aja. aku jadi mikir apa YUI punya tekan dari agensi sek kayak gitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: